Syubhat:
Al-Qur’an berbicara panjang lebar tentang bidadari bermata jeli yang disediakan Allah di surga untuk laki-laki, tanpa menjanjikan hal yang serupa bagi perempuan. Keterangan dalam Al-Qur’an ini menjadi bukti baru mengenai diskriminasi perempuan, bahkan ketika mereka berada di surga tempat mereka menerima pahala dan balasan.
Jawaban:
Dapat diprediksi bahwa pengkritik ini memiliki seluruh citarasa manusiawi serta memiliki pengetahuan yang diperlukan mungenai perbedaan antara watak maskulin pada diri laki-laki dan watak feminin dalam diri perempuan. Untuk itu, penulis katakana kepadanya, “Anggap saja Anda memiliki dua anak remaja laki-laki dan perempuan. Keduanya adalah anak yang berbakti. taat, dan berusaha mengabdi kepada Anda. Menurut Anda, adakah hal yang menghalangi Anda untuk menyenangkan hati anak laki-laki Anda ciptakan perempuan dengan sifat-sifat femininnya dan menciptakan laki-laki dengan sifat-sifat maskulinnya. Allah pasti berbicara dan memperlakukan masing-masing sesuai watak yang disematkan-Nya. Mengharapkan sesuatu yang bertentangan dengan hal tersebut merupakan pencederaan terhadap hikmah Allah. Mahasuci Allah dari hal demikian.
Karunia dan kemuliaan sama-sama diberikan kepada laki-laki dan perempuan di dunia dan akhirat. Kalau di dalam Al-Qur’an Allah tidak membeberkannya kepada perempuan sebagaimana Dia membeberkannya kepada laki-laki, itu untuk mengajari Anda tentang etika interaksi dan gaya bicara.
Bukankah Allah telah berbicara kepada laki-laki dan perempuan, “Sedangkan surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). (Kepada mereka dikatakan), ‘Inilah nikmat yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang senantiasa bertobat (kepada Allah) dan memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (yaitu) orang yang takut kepada Allah Yang Maha Pengasih sekalipun tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertobat, masuklah ke dalam surga dengan aman dan damai. Itulah hari yang abadi. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki, dan pada Kami ada tambahannnya,” (QS Qaf [50]: 31-35).
]adi, laki-laki dan perempuan memperoleh apa yang mereka inginkan di surga. Seorang perempuan tidak berhasrat terhadap sesuatu, melainkan Allah pasti mewujudkannya sebagaimana keinginannya. Ayat yang lebih gamblang dalam menjelaskan masalah ini adalah firman Allah, “Kepada mereka diedarkan piring-piring dan gelas-gelas dari emas, dan di dalam surga itu terdapat apa yang diingini oleh hati dan segala yang sedap (dipandang) mata. Dan kamu kekal di dalamnya,” (QS Az-Zukhruf [43]: 71).
Kata anfus pada ayat di atas adalah jamak dari kata nafi (diri atau hati) dan itu mencakup laki-laki dan perempuan.
Jadi, inilah penjelasan Ilahi yang kalian inginkan untuk diutarakan secara gamblang kepada laki-laki dan perempuan. Penjelasan Ilahi telah menegaskannya secara garis besar, tanpa membuat risih seorang pun.
Penulis membayangkan bahwa pengkritik yang melecehkan kalam Allah ini akan mengatakan, “Barangkali gadis Arab, terlebih lagi yang muslimah, akan risih menerima pernyataan terus terang seperti ini. Barangkali pula ia akan merasakannya sebagai perkataan yang melukai. Namun, gadis Barat di Eropa dan Amerika tidak demikian. Ia tidak merasa risih sedikit pun jika ayahnya menjanjikan seorang suami yang akan membahagiakannya. Bahkan, gadis Barat tidak merasa risih untuk mencari sendiri pemuda yang disukainya untuk mengutarakan lamarannya.”
Penulis katakan, ini benar. Yang demikian itu termasuk nasib perempuan Barat yang mengenaskan dan salah satu penyebab ketidakbahagiaannya. Fitrah perempuan—siapapun dan dimanapun—itu suka dicari, bukan mencari. Yang membuatnya bahagia dan menggetarkan rasa femininnya adalah ketika seorang pemuda berusaha mengejarnya dan tertambat hati sang pemuda padanya, bukan sebaliknya.
Akan retapi, sesuatu yang dialami Barat pada hari ini adalah cara seorang pemuda untuk memperoleh gadis dan menikmati tubuhnya itu sangat gampang dan tidak ada beban sama sekali. Jalan belakang dan menyimpang, keluar dari jalan perkawinan telah banyak terjadi, dan itu tidak membutuhkan tenaga dan uang. Oleh karena itu, animo terhadap perkawinan merosot dan terus merosot. Kemudian, animo terhadap perkawinan itu pun layu. lalu mati.
Majalah News Week edisi januari 1997 melansir sebuah riset panjang dengan judul “Matinya Perkawinan”. Riset ini berisi penjelasan tentang tragedi yang timbul dari fenomena tersebut yang berimbas pada anak-anak dan berimbas pula terhadap kaum perempuan secara dramatis dan memilukan karena perempuan dalam kondisi apa pun tetap bermimpi untuk memuaskan rasa keibuan dalam dirinya. Satu-satunya jalan untuk mewujudkannya adalah pernikahan. Sementara itu, sangat sedikit laki-laki yang berniat untuk menikah dan mencari istri. Maka dari itu, jalan yang ditempuh perempuan untuk tujuan tersebut adalah satu dari dua jalan berikut.
Pertama, mengetuk pintu seorang pemuda untuk mengajaknya menikah. Bahkan, kalau perlu, perempuan tersebut harus merayunya dengan segala cara supaya menerima permintaannya. Kalau ia beruntung dan laki-laki itu menerima, itulah nasibnya. Kalau tidak, tidak ada cara selain cara kedua.
Kedua, menyerahkan diri kepada laki-laki mana saja yang mau kepadanya dengan harapan, ia memperoleh anak dari laki-laki tersebut. Dengan demikian, ia dapat menjalani salah satu aspek keibuan dengan memelihara anak tersebut asalkan ia dapat memuaskan keinginannya itu.
Jadi, gadis—siapapun dan dimana pun—diberi fitrah suka dicari, bukan mencari. Akan tetapi. kondisi yang menyimpang di tengah masyarakat Barat Ini telah menjauhkan keinginan pemuda dari pernikahan karena menimbulkan ikatan dan tanggungjawab yang ddak mereka butuhkan. Faktor inilah yang memaksa gadis Barat umuk menyalahi fitrahnya dan merendahkan martabatnya sehingga ia harus merayu laki-laki untuk diajaknya menikah.
Penulis teringat tentang seorang kerabat yang hidup senang di Amerika. la menikah dengan perempuan Amerika. Perempuan itulah yang berinisiatif meminangnya dan dialah yang mengeluarkan sebagian besar biaya pernikahannya. Ia pulang ke Damaskus beberapa hari untuk menengok keluarganya. Istri kerabat itu melihat bahwa tradisi yang berlaku di negeri kami adalah yang sesuai dengan fitrah perempuan, yaitu pemuda melamar gadis dan sang gadis “menjual mahal” dengan menuntut syarat-syarat. Ketika ia melihat hal ini, ia berbisik kepada suaminya untuk tidak memberi tahu keluarga bahwa dialah yang melamarnya dan menawarkan diri untuk menjadi istrinya.
Al-Qur’an adalah kalam Allah yang menciptakan laki-laki dengan sifat-sifat maskulin dan menciptakan perempuan dengan sifat-sifat feminin. Oleh karena itu, Al-Qur’an berbeda terhadap laki-laki dan perempuan mengenai sesuatu yang disediakan Allah bagi mereka dengan cara yang sesuai dengan fitrah laki-laki dan perempuan. Al-Qur’an menenteramkan masing-masing bahwa di surga kelak terdapat apa saja yang diinginkan hati dan disenangi pandangan. Mereka—laki-laki dan perempuan—memperoleh apa saja yang mereka inginkan dan mereka pun memperoleh kemuliaan lebih dari Allah.
Barangkali Anda mengatakan, “Kami telah mengetahui cara Allah memuliakan laki-laki dengan bidadari bermata jeli. Namun, bagaimana Allah memuliakan perempuan dengan laki-laki seperti bidadari itu?”
Jawabannya, ini urusan Allah. Allah tidak harus memberi tahu Anda cara Dia mewujudkan sesuatu yang dltakdlrkan-Nya. Apakah Anda telah diberi tahu tentang cara-cara Allah menyedliakan nikmat bagi hamba-hamba-Nya yang saleh di surga dan hanya cara ini saja yang tidak Anda ketahui?
Anda cukup berpegang pada sabda Rasulullah Saw. tentang gambaran surga dan isinya, “Di dalamnya terdapat apa-apa yang telah pernah terlihat mata, terdengar telinga, dan terdetik di hari manusia.” Anda juga cukup menyerahkan urusan ini kepada Tuhan yang menjanjikan itu semua jika Anda pergi menemui-Nya dalam keadaan beriman kepada-Nya dan meyakini bahwa Al-Qur’an adalah Kalam-Nya dan Muhammad adalah utusan-Nya.
Sumber : mosleminfo.com



No comments:
Post a Comment