FPI adalah organisasi amar makruf nahi mungkar yang berasaskan Islam dan berakidahkan Ahlusunah Waljemaah serta bermazhab fikih Syafii. Jadi, FPI bukan Syiah atau pun Wahabi.
Syiah,
Pandangan FPI terhadap Syiah sebagai berikut: FPI membagi Syiah dengan semua sektenya menjadi tiga golongan: Pertama, Syiah ghulat yaitu Syiah yang menuhankan/menabikan Ali bin Abi Thalib r.a. atau meyakini Alquran sudah di-tahrif (dirubah/ditambah/dikurangi), dan sebagainya dari berbagai keyakinan yang sudah menyimpang dari usuluddin yang disepakati semua mazhab Islam. Syiah golongan ini adalah kafir dan wajib diperangi.
Kedua, Syiah rafidah yaitu Syiah yang tidak berkeyakinan seperti ghulat, tapi melakukan penghinaan/penistaan/pelecehan secara terbuka baik lisan atau pun tulisan terhadap para sahabat Nabi saw. seperti Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. atau terhadap para istri Nabi saw. seperti Aisyah r.a. dan Hafsah r.a. Syiah golongan ini sesat, wajib dilawan dan diluruskan.
Ketiga, Syiah mu’tadilah yaitu Syiah yang tidak berkeyakinan ghulat dan tidak bersikap rafidah, mereka hanya mengutamakan Ali r.a. di atas sahabat yang lain, dan lebih mengedapankan riwayat ahlulbait daripada riwayat yang lain, secara zahir mereka tetap menghormati para sahabat nabi saw., sedang batinnya hanya Allah Swt. Yang Mahatahu, hanya saja mereka tidak segan-segan mengajukan kritik terhadap sejumlah sahabat secara ilmiah dan elegan. Syiah golongan inilah yang disebut oleh Prof. Dr. Muhammad Said Al-Buthi, Prof. Dr. Yusuf Qaradhawi, Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili, Mufti Mesir Syekh Ali Jum’ah dan lainnya, sebagai salah satu mazhab Islam yang diakui dan mesti dihormati. Syiah golongan ketiga ini mesti dihadapi dengan dakwah dan dialog bukan dimusuhi.
Wahabi,
Ada pun pandangan FPI terhadap wahabi sebagai berikut. FPI membagi Wahabi dengan semua sektenya juga menjadi tiga golongan; pertama, Wahabi takfiri yaitu Wahabi yang mengkafirkan semua muslim yang tidak sepaham dengan mereka, juga menghalalkan darah sesama muslim, lalu bersikap mujassim yaitu mensifatkan Allah Swt. dengan sifat-sifat makhluk, dan sebagainya dari berbagai keyakinan yang sudah menyimpang dari usuluddin yang disepakati semua mazhab Islam. Wahabi golongan ini kafir dan wajib diperangi.
Kedua, Wahabi khawarij yaitu yang tidak berkeyakinan seperti takfiri, tapi melakukan penghinaan/penistaan/pelecehan secara terbuka baik lisan maupun tulisan terhadap para ahlulbait nabi saw. seperti Ali raa., Fatimah raa., Al-Hasan raa. dan Al-Husain raa. mau pun itrah/zuriyahnya. Wahabi golongan ini sesat sehingga mesti dilawan dan diluruskan.
Ketiga, Wahabi mu’tadil yaitu mereka yang tidak berkeyakinan takfiri dan tidak bersikap khawarij, maka mereka termasuk mazhab Islam yang wajib dihormati dan dihargai serta disikapi dengan dakwah dan dialog dalam suasana persaudaraan Islam.
Dengan demikian, FPI sangat menghargai perbedaan, tapi FPI sangat menentang penyimpangan. Oleh karena itu semua, FPI menyerukan kepada segenap umat Islam agar menghentikan/membubarkan semua majelis/mimbar mana saja yang secara terbuka melecehkan/menghina/menistakan ahlulbait dan sahabat nabi saw. atau menyebarluaskan berbagai kesesatan atau melakukan penodaan terhadap agama, lalu menyeret para pelakunya ke dalam proses hukum dengan tuntutan penistaan agama. (redaksi fi.or.id/adie). 1
Haul Imam Khomeini Bersama FPI,
Imam Khomeini tidak hanya milik kaum Syiah. Setidaknya hal itu dibuktikan pada peringatan wafatnya (haul) Imam Khomeini ke-20 di Islamic Cultural Center, Jakarta (04/06). Selain dihadiri pembicara utama, Ayatullah Baqir Al-Anshari, peringatan kali ini juga dihadiri oleh wakil dari Front Pembela Islam (FPI).
Ustaz Sholeh Mahmud (wasekjen DPP FPI), yang mewakili Sekjen DPP FPI Shobri Lubis dan Ketua Umum Habib Rizieq Shahab yang tidak bisa hadir karena terikat kontrak dengan “pondok pesantren” Polda, memberikan ceramah singkat mengenai perjuangan Imam Khomeini yang siap mengorbankan apa yang dimiliki untuk Allah dan Rasulullah saw.
Menurutnya, Imam Khomeini merupakan ulama sekaligus pejuang yang telah melepaskan rakyatnya dari kezaliman tirani pada masa itu. Beliau berani menghadapi risiko apapun, mulai dari penjara, pengasingan hingga ancaman kematian. Penjara di Iran, Irak, Turki dan pengasingan ke Perancis tidak membuat pemikiran dan perjuangan Imam Khomeini terhenti.
Ketika Rasulullah saw. hendak hijrah ke Madinah, Sayidina Ali ditanya oleh Nabi, “Maukah engkau menggantikan aku di tempat tidurku? Aku akan berangkat hijrah ke Makkah. Lalu Sayyidina Ali menjawab, “Wahai Rasulullah, seandainya malam ini Ali yang wafat, maka kelak akan muncul ribuan Ali yang meneruskan perjuanganmu. Namun jika engkau yang wafat, sungguh Islam belum sempurna.”
Sayidina Ali pun menempati tempat tidur Nabi dengan segala risiko yang dihadapi termasuk kematian. Inilah nilai-nilai yang harus diambil dari perjuangan dan pemikiran Imam Khomeini.
Diakhir pembicaraannya, Wasekjen DPP FPI pada malam itu mengingatkan kita semua agar senantiasa merapatkan barisan, kuatkan ukhuwah Islamiah, karena masih banyak musuh Islam yang mengancam (dari dalam) dengan adu domba di antara sesama umat Islam. Allâhu Akbar!. 2
Habib Rizieq Puji Persatuan Hamas dan Hizbullah.
Sebenarnya sudah cukup banyak blog atau situs yang menampilkan wawancara ini. Mengingat adanya pesan penting dan hikmah yang bisa diambil dari wawancara antara wartawan SYIAR dengan Habib Rizieq Shihab di rumahnya Gang Bethel ini, berikut ini saya kutipkan wawancara tersebut kembali.
Apakah Anda punya model negara ideal yang menjalankan syariat Islam?
Sekarang ini telah bermunculan negara-negara Muslim yang menjalankan hukum Islam. Di samping punya kelebihan, mereka juga punya kekurangan. Contohnya adalah Iran. Setelah Syah Iran tumbang, Ayatulah Khomeini dan pengikutnya membentuk Republik Islam Iran. Terlepas dari perbedaan mazhab yang ada, kita juga jangan lupa bahwa model kepemimpinan Islam ini ‘kan juga terlihat di Sudan meskipun sudah diacak-acak kekuatan asing. Kalau lemah, niscaya Iran pun akan diacak-acak. Sebagaimana kita tahu, sejak memproklamasikan diri sebagai Republik Islam, Iran langsung diserang Irak, dan terjadilah Perang Teluk. Iran dikerubuti berbagai macam negara dan tekanan Barat juga tidak berkurang. Artinya, tidak ada satu pun negara Islam di dunia ini yang akan luput dari tekanan. Di Aljazair, partai Islam sudah menang pemilu tapi dikhianati.
Di kalangan Syiah, Iran sudah menjadi contoh, meskipun ada perbedaan pendapat antara Khomeini dan Muhammad Jawad Mughniyah tentang konsep wilâyatul fâqih yang belum tuntas hingga saat ini. Polemik ini adalah salah satu wujud kekurangan Iran. Sedangkan dari segi sistem politik, Iran boleh dikatakan sudah menjadi percontohan. Kita berharap ke depan akan muncul negara-negara Islam lainnya yang bisa menjadi percontohan.
Ada beberapa kesan yang saya dapat dari kunjungan saya ke Iran. Sebagai suni Syafii, tentu kita punya pandangan sendiri tentang Syiah. Namun demikian, antara memandang Syiah dari jauh dengan memandang Syiah dari dekat itu beda. Dari jauh, Syiah itu begini dan begitu. Sedangkan bila dilihat dari dekat, ternyata tidak seperti itu. Setidaknya, kunjungan saya (ke Iran—red) itu akan melunturkan kebekuan. Tadinya mungkin kaku dan anti-dialog. Tapi setelah kunjungan itu, agak sedikit lebih cair dan terbuka. Yang kemarin tidak mau mendengar sekarang jadi mau mendengar. Yang kemarin mau menyerang kini mengajak dialog.
Ke depan, sikap ini perlu dikembangkan. Sebetulnya banyak perbedaan suni-Syiah, baik dalam ushul maupun furu’. Tapi kita ingin menjawab dalam realita kehidupan sehari-hari, apakah betul tidak ada jalan untuk mendudukkan mereka bersama? Apakah betul tidak ada ruang dialog di antara mereka?
Saya lihat banyak sisi yang bisa didialogkan. Selama secara terang-terangan dan terbuka mencaci-maki Abu Bakar, Umar, dan Utsman, berarti orang-orang Syiah telah menutup pintu dialog. Mustahil ada suni yang mau diajak dialog kalau mendengar dari mulut Syiah sesuatu yang jelek tentang mereka. Orang Syiah mesti memahami kejiwaan dan perasaan sensitif Sunni sehingga tidak mencaci-maki atau menghina, apalagi mengkafirkan mereka. Begitu juga sebaliknya. Suni tidak boleh menggeneralisasi bahwa semua Syiah itu kafir dan sesat. Kalau diambil, pasti sikap seperti ini akan menyakiti hati orang-orang Syiah. Ini juga akan menutup pintu dialog.
Jadi, persatuan yang saya pahami bukan soal sependapat atau tidak sependapat. Persatuan adalah masalah hati. Bila hatinya baik, berjiwa besar, mau menerima perbedaan, mau berdialog, tidak mencaci-maki, dan tidak menghina, setiap orang pasti bisa bersatu. Tapi kalau hatinya sudah busuk dan rusak, orang tidak akan pernah bisa (bersatu—red). Perbedaan kecil sedikit pun bisa menimbulkan permusuhan.
Perbedaan sekecil apa pun, bila disikapi dengan jiwa kerdil, dada sempit, sikap egois, dan mau menang sendiri, pasti akan mendatangkan perpecahan dan malapetaka. Apalagi kalau perbedaannya besar, wah sudah pasti hancur lebur. Sebaliknya, perbedaan sebesar apa pun, kalau disikapi dengan jiwa besar, dada lapang, sikap tafâhum, dan saling hormat, insya Allah tidak akan menimbulkan perpecahan.
Sekali lagi, persatuan ini adalah masalah hati. Kita tidak bisa memaksakan orang untuk sependapat. Mustahil. Sebab perbedaan pendapat adalah sunnatullah yang akan selalu ada di setiap tempat dan zaman.
Bila Syiah mengkritik kepemimpinan Abu Bakar dengan cara ilmiah dan santun dan disertai dalil-dalil dan argumentasi yang baik, suni wajib menjawabnya. Kita pun mesti menjawab pertanyaan-pertanyaan orang kafir yang bertanya tentang akidah kita. Seperti Ahmad Deedat terhadap pertanyaan-pertanyaan orang kafir. Begitu juga sebaliknya. Nah, kedua belah pihak (suni-Syiah—red) harus menjawab dengan santun.
Kalau Syiah, tanpa angin dan hujan, tiba-tiba mencaci Abu Bakar, itu sama saja ngajak perang. Kritik terhadap sahabat, yang bagi ahlusunah adalah tabu tetapi biasa bagi Syiah, hendaknya disampaikan dengan adab, ilmiah, akhlakul karimah, dan tidak emosional. Membangun hal seperti ini tidaklah mudah tetapi ini bisa menyatukan hati dan langkah dalam kalimatullah. Itu yang lebih penting.
Pandangan Anda tentang Syiah di Indonesia?
Kalau yang saya lihat selama ini, hubungan saya baik dengan kawan-kawan Syiah di Indonesia. Apa yang saya sampaikan ke Anda sekarang ini juga sudah saya sampaikan kepada mereka. Contohnya kepada Ustadz Hassan Daliel (Alaydrus), saya katakan, “Bib (habib—red.), kenapa kita bisa jalan bareng? Karena saya belum pernah mendengar Anda mencaci-maki sahabat. Nah, ini perlu dijaga. Yang saya dengar kritik antum juga sopan. Tapi kalau suatu saat saya mengkafirkan Anda dan Anda maki-maki sahabat, kita bisa musuhan.”
Ini sebagai gambaran umum dari apa yang saya terima dari Ustaz Hassan Daliel, Ustaz Othman Shihab, Ustaz Agus Abubakar, Ustaz Husein Shahab, Ustaz Zein Alhadi, dan banyak lagi ustaz-ustaz Syiah yang tidak perlu saya sebutkan satu persatu. Saya belum pernah mendengar ungkapan jelek dari mulut-mulut mereka. Yang saya tahu mereka adil, berilmu, berakal, dan beradab. Mudah-mudahan hubungan ini bisa dipertahankan. Bahkan bukan hanya itu, saya berharap orang-orang seperti mereka mampu tampil ke depan mendorong orang-orang Syiah yang di bawah atau junior-junior mereka agar tidak mencaci-maki sahabat nabi. Sebab, ada satu saja Syiah yang mencaci-maki sahabat, nanti orang-orang suni yang tidak paham akan menggeneralisasi bahwa Syiah memang seperti itu. Orang awam ‘kan mudah menggeneralisasi.
Iran dikenal sebagai negara yang paling banyak membantu perjuangan Hamas dan rakyat Palestina yang notabene Sunni. Apakah kenyataan ini tidak bisa dijadikan momentum persatuan Sunni-Syiah?
Iya, betul itu. Itu hal yang saya sangat catat. Waktu saya ke Iran kemarin, Khaled Meshaal (Ketua Depatemen Politik Hamas—red.) baru saja pulang dari Iran, tempat yang sama dengan yang kita datangi.
Jadi, hubungan Hamas dan Hizbullah yang saling topang dan bantu seharusnya menjadi potret bagi persatuan umat. Mereka tetap pada pendapatnya masing-masing. Tapi pada saat mempunyai musuh bersama yang bernama Israel dan Amerika, kekafiran dan kezaliman, Hamas-Hizbullah bisa duduk dan jalan bersama. Kita juga bisa melihat hubungan erat antara Hasan Nasrullah (Sekjen Hizbullah—red) yang Syiah dengan Fathi Yakan (tokoh Ikhwanul Muslimin di Lebanon) yang suni. Bahkan Nasrullah ngomong secara terbuka bahwa Fathi Yakan-lah yang pantas menggantikan Siniora. Inilah potret positif yang luar biasa di zaman modern ini.
Di sisi lain, kita juga sedih bagaimana Syiah dan suni di Irak begitu gampang diadu domba. Ini jelas permainan pihak ketiga. Dia (pihak ketiga—red.) meledakkan masjid Syiah dan menuding suni, dan kemudian meledakkan masjid suni dan menuding Syiah.
Saya berharap kita bisa mengembangkan potret suni-Syiah yang pertama. Potret yang kedua harus dihentikan segera. Sekarang di mana-mana semakin transparan adu dombanya, seperti di Irak dan Pakistan. Karena Syiah di Indonesia tidak besar, maka (adu domba itu—red.) belum terasa. Tapi di beberapa tempat adu-domba ini jelas berhasil.
Syiah bukan barang baru di Indonesia. Menurut sejarawan, Syiah datang dari Gujarat dan Persia. Setidaknya budaya Persia cukup dikenal dalam tradisi keberagamaan di Indonesia. Apakah ini bisa jadi salah satu faktor pemersatu Sunni-Syiah?
Iya, itu bisa jadi faktor. Tapi, tetap faktor utamanya adalah masalah jiwa besar dan akhlak yang baik. Orang Syiah yang berilmu dan berakhlak tidak akan mungkin dari mulutnya keluar caci-maki kepada umat lain. Tidak ada. Saya kenal ulama-ulama Syiah yang berakhlak dan berilmu. Tidak ada keluar kata-kata kotor dari mulut mereka. Jadi, bila ada aktivis-aktivis Syiah yang mengeluarkan kata-kata kotor tentang sahabat, saya jadi heran, mereka itu ngikutin siapa?
Jadi, semua kembali ke hati, yang gambarannya bisa dilihat dari mulut. Bila mulutnya sudah penuh umpatan dan caci-maki, pasti hatinya sudah jelek. Kalau hatinya baik, dia bisa menghargai orang. Dia bisa mengetahui dan menahan ucapannya yang bisa menyinggung saudaranya. Bila ingin menyampaikan kebenaran, ia menyampaikannya dengan santun. Bahkan bila kita berhadapan dengan orang kafir, meski mungkin hatinya mencaci-maki Islam, yang menyampaikan kritiknya dengan sopan, kita mesti menjawabnya. Nabi dulu juga berdialog dengan orang musyrik, kafir, Nasrani, dan Yahudi. Itu contoh bagi kita.
Bagaimana dengan fatwa MUI yang menyesatkan Syiah?
Begini, kita tidak bisa menggeneralisasi semua Syiah sesat atau semua Syiah tidak sesat. Sebab orang Syiah pun merngakui bahwa di internal Syiah pun terdapat macam-macam golongan, dan di dalamnya ada pula yang sesat, yakni yang menuhankan Ali, meyakini Jibril salah menyampaikan risalah, dan Alquran yang seharusnya lebih tebal daripada sekarang. Itu ada dan diakui oleh Syiah mainstream. Dalam hal ini, yang dimaksudkan dengan fatwa MUI tadi adalah Syiah yang semacam itu.
Yang perlu disadari betul oleh Syiah adalah bahwa ahlusunah punya sikap tegas soal sahabat. Bagi suni, siapa pun yang mencaci-maki dan apalagi mengkafirkan sahabat akan dikatakan sesat. Ini kunci. Oleh karena itu, untuk mengambil jalan tengah, Syiah harus menahan diri dari mencaci-maki dan mengkafirkan sahabat. Ajaklah suni berdialog, seperti yang dilakukan kelompok Zaidiah yang masih bagian dari Syiah. Kenapa snni dan Zaidiah bisa akrab? Bahkan, kitab-kitab Zaidiah, seperti Subulus Salâm dan Nailul Awthâr, dipakai di pondok-pondok (pesantren—red.) suni.
Jadi, yang dikafirkan MUI tanpa ragu-ragu adalah Syiah yang mengkafirkan sahabat, yang meyakini Alquran berubah, atau yang menganggap Ali lebih afdal daripada Muhammad. Sekarang tinggal Syiah Indonesia introspeksi diri, apakah mereka masuk ke dalam ciri-ciri yang disesatkan MUI? Kalau tidak masuk dalam kelompok tersebut, tidak perlu gerah dengan fatwa itu. Saya sendiri lebih suka MUI membuka dialog. Hendaknya MUI mengundang tokoh-tokoh Syiah Indonesia untuk klarifikasi seperti apakah Syiah mereka itu.
Sekali lagi, saya berpendapat, kita tidak bisa mengeneralisasi Syiah. Sebab, Syiah itu macam-macam: ada yang moderat, konservatif, ekstrem, dan bahkan ada yang kafir. Bahkan, Muhammad Jawad Mughniyah (ulama Syiah Lebanon—red.) dalam Al-Fiqhu ‘ala Al-Madzâhib Al-Khamsah mengatakan bahwa Syiah ghulat adalah kafir. Katanya, gara-gara ghulat, kami, Syiah Jafariah, yang moderat jadi tertuduh. Waktu di Qum, saya melihat aparat menggerebek majelis Syiah Alawiyah yang menuhankan Ali. Artinya, yang mengkafirkan Syiah ghulat bukan hanya MUI, bahkan ulama Syiah pun mengkafirkannya. Jadi kita perlu memahami konteks fatwa MUI tersebut.3
Haul Imam Husain Persatukan Suni-Syiah,
Peringatan gugurnya Sayidina Husain di Masjid Agung At-Tin, Minggu (14/02), kembali menyatukan umat muslim dari berbagai ormas dan mazhab. Ribuan jemaah yang hadir dari perwakilan NU, Muhammadiyah, FPI, HMI, kiai, habaib dan ustaz, bersama-sama berselawat kepada Rasulullah saw. yang dipimpin Hasyim Abdullah dan mengenang kesyahidan cucu Rasul, Sayidina Husain bin Ali. (Terlihat gambar di samping KH. Noer Iskandar SQ sedang menyampaikan ceramahnya).
Ustaz Othman Umar Shahab yang menjadi penceramah pertama sempat menyinggung ayat, “Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali mawaddah pada al-qurbâ’.” (QS. 42: 23). Para mufasir menyatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan keluarga Nabi saw. Mawaddah di sini lebih tinggi dari pada mahabbah, karena mawaddah berarti mahabbah (kecintaan) sekaligus ittiba’ (mengikuti dan mencontoh). Sedangkan al-qurbâ dengan alif lam menandakan ma’rifah yang merupakan kekhususan kepada keluarga Nabi.
Pembicara kedua adalah KH. Noer Iskandar SQ, pimpinan Ponpes Asshiddiqiyah. Sambil menangis beliau menyatakan bahwa kita memiliki utang yang besar terhadap Rasulullah saw, karena beliau jauh lebih mencintai kita daripada kita mencintai beliau. Kematian yang disebut sebagai nasihat membuat kita mengenang beliau dan mengenang Sayidina Husain dengan menggelar acara haul.
Beliau juga menyampaikan permasalahan judicial review yang dilakukan beberapa LSM terhadap UU No. 1 Tahun 1965 tentang Penyalahgunaan dan Penodaan Agama. Adanya undang-undang itu saja agama mayoritas di Indonesia bisa dilecehkan apalagi tanpa adanya peraturan tersebut. Lima agama sah yang ada Indonesia bisa terancam jika UU tersebut dicabut.
Beliau meminta umat muslim untuk tidak lagi ribut masalah nikah siri dan mutah, sementara zina semakin meluas di mana-mana. Umat Islam harus bersatu menghadapi ancaman kekuatan asing. Jika umat muslim sendiri saling ribut, maka akan mudah dihancurkan. Beliau juga menasihati kaum Syiah untuk tidak takut menunjukkan jati dirinya, dan ulama Suni untuk tidak takut bergabung dengan acara Syiah.
Sementara dari PP Muhammadiyah diwakili oleh Piet Hizbullah Khaidir. Ia menyatakan bahwa Imam Husain adalah simbol kebenaran yang dilawan oleh simbol kebatilan. Simbol tersebut terus berlangsung hingga hari ini dan mereka yang mempelajari dan mengikuti perjuangan Imam Husain akan diberi kekuatan untuk melawan kebatilan.
Komando Laskar Jihad FPI, Awid Mashuri, yang hadir menyatakan agar kita menghindari permusuhan sesama umat muslim yang tidak jelas, sedangkan Ahmadiah sudah jelas kesesatannya. Sambil mengingatkan aksi demonstrasi di Monas dua tahun lalu, ia mengatakan bahwa AKKBB kali ini menggunakan jalur hukum dengan mengancam UU No. 1 Tahun 1965. Untuk itu ia meminta umat muslim, baik Syiah maupun Suni, untuk bersatu melawan antek-antek Yahudi. Ceramah singkatnya pun diwarnai teriakan takbir jemaah.
Dr. Muhsin Labib yang menjadi pembicara kelima menyatakan bahwa kita yang hadir dalam acara haul ini telah menunjukkan kecintaan pada kebenaran dan anti terhadap kezaliman. Kehadiran kita bukan sekedar untuk tangis dan ratapan, bukan juga untuk membuka kembali lembar sejarah. Tapi menunjukkan rasa anti terhadap Yazid-Yazid baru masa kini dan masa depan. Umat muslim diminta untuk tidak tertipu dengan penampilan fisik tapi lihatlah siapa yang bersama keadilan dan melawan kezaliman.
Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Muhammad Chozin, yang menjadi pembicara selanjutnya menceritakan mengenai sejarah Sayidina Imam Husain (begitu ia menyebutnya) mulai sejak lahir hingga syahid di Karbala. Ia menyatakan bahwa Sayidina Husain harus menjadi inspirasi bagi para pemuda untuk menyuarakan kebenaran.
Pembicara terakhir adalah Syekh Abdul Jawad Ibrahimi. Beliau menyatakan bahwa ayat Alquran memang seluruhnya diturunkan kepada Nabi saw. Tapi dalam beberapa ayat terdapat kata qul (katakanlah) dan itu memiliki bermakna khusus. Salah satu ayat tersebut adalah, “Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali mawaddah pada al-qurbâ’.” (QS. 42: 23)
Sama seperti para nabi sebelumnya yang tidak meminta upah, namun kali ini Nabi Muhammad diperintahkan oleh Allah Swt. untuk meminta upah atas risalah yang telah di sampaikan oleh beliau, yakni kecintaan dan mengikuti (mawaddah) kepada keluarga Nabi saw. Sudahkah kita mengikuti keluarga Nabi? Acara ditutup oleh selawat dan renungan yang dipimpin oleh Haddad Alwi.4
Ceramah Habib Rizieq Shihab Tentang Asyura dan Tragedi Karbala,
Asyura dan Tragedi Karbala Dalam Perspektif Ahlussunnah wal Jammaah
Silahkan klik :
1.http://www.4shared.com/mp3/YtDuqSPu/Asyura_dan_Karbala__Habib_Rizi.html (Asyura dan Tragedi Karbala/150 menit)
2.http://www.4shared.com/mp3/4i3D5T8U/hb_rizeiq_cinta_ahlul_bait.html (Bersatulah Sunnah-Syi’ah Dalam Kecintaan Kepada Ahlul Bait/ 1 menit 47 detik)
3.http://www.4shared.com/mp3/XBf1jHYI/Nasehat_Habib_Rizieq_.html (al-Husein dan Pengikutnya adalah Penegak Amar Ma’ruf Nahi Munkar/1 menit 49 detik)
4.http://www.4shared.com/mp3/wEfGxiDw/Hb_Rizieq_Tragedi_Karbala_dlm_.html ( Ahlussunnah Harus Peduli Dengan Tragedi Karbala/ 5 menit 6 detik)
Ini adalah ceramah persatuan terbaik yang sangat langka selama dua jam lebih dan hampir tak ada Ulama Ahlussunnah di negeri ini yg mampu menjelaskan peristiwa Asyura dan Karbala sebaik Habib Rizieq Shihab (26 November 2012 / 10 Muharram 1434 H ,Markaz Syariah FPI Jln. Petamburan III No. 5 Tanah Abang- Jakarta Pusat).
Kecintaan Kepada Allah Telah Menghancurkan Diriku, Telah Menyita Seluruh Hidupku dan Telah Membuat Diriku Cair Hingga Seluruh Dimensiku Lenyap ( Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad). Itulah cinta sejati yg dilukiskan oleh Sohiburratib dalam bentuk syair dimana pencapaian spritualnya telah mencapai kedudukan sedemikian…dimanakah posisi kita?
الحبيب عبدالله بن علوي الحداد صاحب الراتب : و أما عاشوراء فإنما هو يوم حزن لا فرح فيه,من أجل أن قتل الحسين كان فيه
كتاب تثبيت الفؤاد ج 2 ص 223
Al-Habib Abdullah Al-Haddad Shahibur Ratib: Dan adapun Asyuro’ sesungguhnya adalah hari kesedihan TIDAK ADA SAMA SEKALI KEGEMBIRAAN dikarenakan terbunuhnya Al-Husain di hari itu. (Tasbit al-Fuad Jld.2 Hal.223).
Tak kan bisa mencintai Allah sebelum mengenal dan mencintai Rasulullah Saw, takkan bisa mencintai Rasulullah saw sebelum mengenal dan mencintai ‘AHLUL BAITNYA”, sebagimana yang telah di firmankan-Nya : “ Katakanlah (wahai Muhammad kepada kaummu ), ‘Aku tidak meminta kepada kalian suatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang kepada al-Qurba (Ahlul Bait).QS. Asy syuura’:23, dan madrasah “KARBALA” adalah pintu masuk utama untuk mengenal dan melabuhkan cinta kepada Ahlul Bait Nabi Saw, madrasah “KARBALA” adalah pintu pertemuan semua aliran dan mazhab di dalam Islam.
Silaturahmi dan kunjungan Ulama Iran ke Indonesia






No comments:
Post a Comment