Beberapa kelompok kerap kali mempersoalkan praktik atau amaliyah
kegamaan yang berkembang di tengah masyarakat sebagai bagian dari bid’ah
yang harus dihapus. Hal ini karena tidak pernah dilakukan oleh
Rasulullah.
Namun, menurut Ketua PCNU Jember,
Jawa Timur KH Abdullah Syamsul Arifin, bid’ah atau sesuatu yang baru
yang tidak ada di zaman Rasulullah patut dipersoalkan bukan karena
barunya, melainkan jika sesuatu yang baru itu bertentangan dengan
syariat.
“Bid’ah dipertentangkan bukan karena
barunya, tetapi jika sesuatu yang baru itu bertentangan dengan syariat.
Jadi, jika sesuatu yang baru itu baik, maka tidak ada persoalan,” ujar
kiai yang kerap dipanggil Gus Aab dalam Rapimnas Muslimat NU, Ahad
(26/3) di Sentul, Bogor, Jawa Barat.
Menurutnya,
Imam Syafi’i sendiri mengatakan bahwa sesuatu yang mempunyai cantolan
pada syariat tidak boleh dikatakan bahwa hal itu bid’ah hanya karena
tidak ada atau tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah.
Kiai
yang pernah aktif menjadi Dewan Pakar Aswaja Center PWNU Jawa Timur ini
menjelaskan, apa yang tidak dilakukan oleh Nabi SAW, tak boleh
disimpulkan bahwa hal itu tidak boleh dilakukan.
“Dakwah
untuk menyampaikan syariat sangat terbatas saat itu, baik di fase
Mekkah maupun Madinah. Maka tidak semuanya sempat dipraktikkan oleh
Rasulullah. Jadi, sesuatu yang belum atau tidak sempat dikerjakan oleh
Rasulullah bukan berarti tidak boleh dilakukan,” papar Gus Aab.
Ia menerangkan tentang sunnah hamiyyah atau hadits hammi. Sunnah ini menjelaskan, sesuatu yang telah direncanakan oleh Rasulullah tetapi belum terlaksana hingga Rasulullah wafat.
Gus
Aab mengungkapkan, Rasulullah memang tidak mengerjakan hal-hal baru
yang saat ini dikerjakan umatnya, tetapi mengerjakannnya dalam bentuk
lain. Menurutnya, perayaan maulid, istighostah, tahlil, ziarah kubur,
dan lain-lain adalah tradisi (‘adah) yang tidak bertentangan dengan syariat.
“Bahkan
bisa begeser mendatangkan pahala jika diisi dengan amal ibadah. Contoh
menghadirkan kembali Rasulullah ke tengah-tengah kita. Itu ada dalam
perayaan Maulid Nabi,” urainya.
Ia
berpandangan, dalam Al-Qur’an saja, Allah menceritakan kepada Muhammad
SAW riwayat para Nabi terdahulu, maka manusia sebagai umatnya juga harus
menghadirkan cerita-cerita Rasulullah.
Ia
menjelaskan, Maulid merupakan ekspresi kegembiraan umat Rasulullah.
Manusia dianjurkan untuk bergembira dengan kelahiran Rasulullah.
“Rasulullah
saat ditanya, kenapa berpuasa pada hari Senin, Ia menjawab, hari itu
saya dilahirkan dan menerima wahyu. Jadi, puasa hari Senin itu satu
bentuk ekspresi kegembiraan, bukan puasanya tetapi rasa gembiranya itu,
boleh dengan perayaan dan ekspresi kegembiraan lainnya asal sesuai
syariat,” tegas Gus Aab. (Fathoni)


No comments:
Post a Comment