Perahu Layar Sultan Tidore dan Penyebaran Injil di Papua

Ada catatan yang berkelebat dalam pikiran ketika melihat sketsa Kapal layar Sumbangan Sultan Tidore untuk dua misionaris asal Jerman Carl W Ottow dan Johan G.Geisler yangg digunakan sebagai sarana tibakan mereka di Mansinam Manokwari (Tanah Papua) – pada 5 Februari 1885 – 162 tahun yg lalu (2017).



Catatan ini menjadi kian penting karena menurut pendapat saya ada dua hal yang menjadi latar belakangnya. Pertama, selain tanggal 5 februari khusus bagi masyarakat Papua terutama umat Kristiani di Tanah Papua diperingati sebagai Hari Pekabaran Injil.

Hal kedua, adalah orang Papua tak boleh lupa terhdp kontribusi atau sumbangan orang lain seperti Sultan Tidore yg telah memberikan kapal layarnya sebagai “alat” utk kemajuan orang Papua dan peradabannya.
Artinya bahwa hari ini orang Papua bisa mencapai peradaban dan kemajuan seperti saat ini karena ada kontribusi ada sumbangsih dari orang lain dan saudara saudara lain bukan karena orang Papua sendiri. Termasuk para guru guru Injil, guru sekolah, pamong praja yg dtg dan berasal dari luar Papua bersamaan dgn masuknya Pekabaran Injil itu.

Bahkan satu hal yg penting adalah dalam meletakkan dan memajukan peradaban orang Papua didalamnya diletakkan dan dibangun pula “tradisi intelektual” untuk  orang Papua lewat pendidikan pola berasrama oleh Zending Protestan dan Misionaris Katolik.

Sayangnya setelah 162 tahun Injil masuk di Tanah Papua itu “tradisi intelektual” itu sedang mengalami semacam krisis intelektual yg tadinya berbasis pada lokal kontent atau local knowledge dengan nilai nilai kekristenan.

Bagi saya dari momentum peringatan 162 tahun Pekabaran Injil ini bagaimana merekonstruksi dan merevitalisasi “Tradisi Intelektual”itu. Ini tantangan kita kedepan dalam negara dan bangsa ini.
Khusus untuk kapal layar itu, jelas disediakan oleh Sultan Nuku. Peristiwa ini terjad pada tahun 1855 M.  Berkat kapal itu maka ajaran Kristen menyebar ke kawasan Teluk Cendrwasih, di Biak, dan Yapen (Serui), hingga ke wilayah ‘Kepala Burung’ (Sorong).

Dan sebelum itu memang sudah ada hubungan Papua dengan Sultan Tidore melalui Kepulauan Raja Ampat. Malahan sistem pemerintahan di Kerajaan Raja Ampat itu mengadopsi sistem kekuasaan Kerajaan Ternate dan Tidore.

Ini, jelas artinya peradaban Islam dan Kristen adalah peradaban yang berjalan bersamaan di Papua. Dan selama itu dan hingga kini tak ada masalah. Bahkan, hubungan sudah sampai berlangsung hubungan keluarga.
Maka, jangan heran bila di keluarga itu banyak ditemukan anggota yang berbeda agama, yakni Islam dan Kristen. Tapi mereka tetap bersaudara. Sedangkan wilayah penyebaran agama Islam itu bermula dari Raja Ampat ke Fakfak dan Kaimana (Papua Barat).

Pada UU Otus Papua no 21 tahun 2001 di huruf ’t’ tertuang mengenai definisi orang asli Papua. Isinya yang dimaksud orang Papua itu bukan saja mereka yang berasal dari keturnan suku-suku asli dengan ras Malenesia, tapi juga dan/atau pengakuan terhadap mereka yang lahir, besar, dan moyangnya berkonribusi terhadap kemajuan orang Papua.

Untuk itulah, sekali lagi,  kemajuan orang Papua itu tidak didapat dari dirinya sendiri, tapi dari kontribusi orang lain. Ini juga yang membedakan dengan aturan yang ada UU Otus Aceh.
Oleh: Frans Maniagasi
Frans Maniagasi, cendekiawan Papua alumni Fispol UGM.

No comments:

Post a Comment

Copyright © Suara Muslim. All rights reserved. Template by CB