Menyampaikan dakwah tentu harus memperhatikan sasarannya. Sasaran
yang dimaksud yaitu tingkat pemahaman sebuah masyarakat sehingga seorang
dai dapat menentukan strategi dakwah agar mudah diterima.
Terkait
hal itu, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember, Jawa
Timur KH Abdullah Syamsul Arifin menjelaskan, strategi dakwah dengan
memahami tingkat pemahaman atau struktur sosial sebuah masyarakat
menentukan dakwah tersebut mudah diterima atau sebaliknya.
Gus
Aab, sapaanya, membagi tiga golongan berdasarkan tingkat pemahaman
masyarakat sehingga sebuah dakwah dapat mudah dipahami dan diterima.
“Pertama, Al-Awam, dakwahnya dengan mauidzoh hasanah.
Tidak perlu pakai dalil. Di tingkat masyarakat awam, beragama sangat
sederhana. Mereka mengikuti kiai dan ulama zaman dulu termasuk bagaimana
menyikapi sesuatu yang baru,” jelas Gus Aab saat mengisi materi
penguatan Aswaja dalam Rapimnas Muslimat NU di Sentul, Bogor, Jawa Barat
beberapa waktu lalu.
Kedua, kelompok khowas. Menurutnya, kelompok ini membutuhkan lebih dari sekadar mauidzoh hasanah. Karena di samping kebaikan-kebaikan yang disampaikan dalam dakwah, mereka juga butuh dalil-dalil untuk memperkuat argumentasi.
“Kelompok khowas
ini di antaranya akademisi, kalangan pesantren, dan ustadz. Mereka
jangan sekadar diceramahi dengan mauidzoh hasanah, tetapi dengan bil
hikmah, dengan dalil,” urai kiai yang pernah aktif di Aswaja Center PWNU
Jawa Timur ini.
Selain itu, kata dia, untuk
kelompok khowas penyampaian dakwah harus rasional dan kuat-kuatan dalil.
Dalam hal ini, tidak cukup hanya rasional saja, tetapi sesuatu yang
rasional itu harus diperkuat dengan dalil sehingga dakwah bisa diterima.
“Ketiga,
kelompok pembangkang, orang yang memang dari awal berutujuan tidak
baik, solusinya didudukkan. Diskusi bareng. Kalau bisa disepakati dari
awal. Contoh, jika nyatanya kamu salah, kamu harus ikut saya dan
sebaliknya,” ujarnya.
Dia menandaskan, dakwah
menghadapi kelompok pembangkang ini harus kuat dulu ilmu dan penguasaan
dalilnya. Kalau pun terjadi debat, timnya harus kuat. Secara akademis,
ilmu juga harus kuat disamping dalil-dalil kitabnya. (Fathoni)
(Nu.or.id)


No comments:
Post a Comment