Pengajian rutin satu selapanan sekali Komunitas Pecinta Kiai Sholeh
Darat (Kopisoda) genap satu tahun. Putaran yang ke-12 ini bertempat di
pesantren Nurul Hidayah. Jamaah pengajian yang berbeda-beda tak
menyurutkan niat komunitas ini terus mendalami keilmuan Kiai Sholeh
Darat.
Selain membaca tafsir Hidayat al-Rahman, hadir KH Ahmad Sudibyo memberikan pengalaman lain yang selama ini juga mengkaji kitab-kitab Mbah Sholeh, Ahad (19/3).
Pak
Dibyo (panggilan akrab KH Ahmad Sudibyo) mulai menelusuri karya penulis
kitab arab Pegon semenjak 1996. Pertama kali mendapatkan selembar kitab
Laṭā'if al-ṭahārah wa Asrār al-ṣalāh, dari sinilah beliau mulai mengaji dan mengkaji pemikiran Mbah Sholeh Darat.
Pak
Dibyo sangat bersyukur dengan Mbah Sholeh yang telah mau menuliskan
karya dalam Bahasa Jawa. "Kita tak hanya mengkaji pemikiran Mbah Sholeh
saja, tapi juga harus mengaplikasikan ilmunya," ungkap pak Dibyo
mengingatkan jamaah Kopisoda.
Pak Dibyo
melanjutakan bahwa Mbah Sholeh Darat mengajarkan kepada kita tentang
wajib ain dalam mempelajari agama (pokok-pokok ilmu agama).
Sebagaimana diterangkan dalam Tarjamah sabīl al-'abīd 'alá jawharāt al-tawḥīd,
pertama mempelajari ilmu Tauhid dan Akidah Ahlusunnah wl Jamaah, kedua
ilmu Fiqih dan ketiga ilmu Tasawuf (ilmu yang membedakan sifat mahmudah
dan madzmumah).
Selain itu, mempelajari
keilmuan Mbah Sholeh tak bisa dipisahkan satu kitab dengan yang lainnya.
Paling tidak terdapat tiga kitab yang harus dipelajari secara bersamaan
yaitu Munjiyāt: Meṭik saking Ihyā' 'ulūm al-dīn, Majmū'at al-sharī'ah al-kā yah li al-'awām dan Matan al-Hikam.
Mbah
Sholeh menurut Pak Dibyo ini merupakan ulama yang jujur dan bukan
plagiator kalau kita kontekskan dalam bahasa ilmiah sekarang. Apabila
tak ada sebuah keterangan yang butuh penjelasan panjang Mbah Sholeh
memberikan rekomendasi karya-karya sendiri di kitab yang lain hingga
ulama lain yang lebih mumpuni.
(Zulfa/Fathoni)


No comments:
Post a Comment