Ketua PBNU H Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyebut tiga alasan harusnya
para santri menghadiri kegiatan haul yang diselenggarakan pesantren
tempatnya dulu mondok. Hal tersebut disampaikannya ketika memberikan
sambutan atas nama Wakil Gubernur Jawa Timur pada puncak haul KH Bisri
Syansuri di Pesantren Denanyar Jombang.
Di samping soal reuni, berbagi pengalaman dan mengenang masa lalu, pertemuan dalam rangka haul memiliki makna yang lebih penting bagi santri. "Setidaknya santri memastikan masih terhubung dengan ulama dan pesantrennya," kata Gus Ipul, Selasa (28/3) malam.
Ia menceritakan bahwa ada juga sebagian santri yang usai boyong atau pulang, ternyata terputus. "Bahkan nganeh-nganehi," ungkapnya. Hal tersebut misalnya dibuktikan dengan ketidaksukaan yang bersangkutan kepada tradisi tahlil, juga gemar mengatakan bidah sejumlah kebiasaan di masyarakat.
"Tetapi, semua berkumpul di sini untuk memastikan bahwa kita masih terhubung dengan Kiai Bisri, serta guru yang lain," kata Gus Ipul. Karena pada hakikatnya, para guru pesantren saling terhubung dan tidak ada putus-putusnya.
Di pesantren sebenarnya tidak mengenal pondok besar maupun kecil. "Karena pada hakikatnya, pondok besar berawal dari pondok kecil, demikian pula pondok kecil adalah bagian dari pondok besar," tegasnya. Terhubungnya para kiai tersebut adalah lantaran nasab keilmuan maupun pernikahan.
Alasan kedua, Gus Ipul juga menyampaikan hasil survei mengapa para santri akhirnya memilih pesantren tertentu. "50 persen, santri mondok ke pesantren lantaran hormat dan takzim kepada muassis dan pengasuh," urainya.
Sedangkan peran alumni memberikan sumbangsih 35 persen. "Jadi, alumni itu ikut memasarkan pesantren," katanya. Tidak sedikit yang kurang tahu pesantren tertentu, akan tetapi lantaran alumninya berkiprah maksimal di masyarakat, akhirnya banyak masyarakat setempat yang berminat."Kalau alumni pesantren alim, akhlaknya baik, menjadi panutan, tentunya akhirnya memotivasi orang untuk mondok di situ," jelasnya. Sedangkan sisanya adalah lantaran faktor orang tua.
"Manfaat ketiga yang tidak kalah penting dari haul adalah sarana tabayyun atau klarifikasi terkait isu aktual akhir-akhir ini," ungkap Gus Ipul. Kendati perkembangan teknologi informasi demikian pesat, namun para santri harus melakukan klarifikasi langsung terkait berita mutaakhir yang menjadi perhatian umat.
Menurut mantan Ketua Umum GP Ansor tersebut, keberadaan forum silaturahmi demikian penting agar santri mendapat informasi yang benar. "Juga memastikan agar tindakan santri tidak salah ketika menyikapi sebuah informasi," jelasnya. Karena itu Gus Ipul tetap berharap kegiatan haul terus dilestarikan lantaran sarat manfaat.
Sejumlah tokoh hadir pada puncak haul Kiai Bisri ini. Tampak Rais Aam PBNU KH Ma'ruf Amin, Wakil Rais Aam KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Rais Syuriyah PWNU Jatim KH Anwar Manshur, H Muhaimin Iskandar, H Abdul Halim Iskandar, Bupati Jombang Nyono Suharli Wihandoko, dan pengasuh pesantren di Jatim. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)
Di samping soal reuni, berbagi pengalaman dan mengenang masa lalu, pertemuan dalam rangka haul memiliki makna yang lebih penting bagi santri. "Setidaknya santri memastikan masih terhubung dengan ulama dan pesantrennya," kata Gus Ipul, Selasa (28/3) malam.
Ia menceritakan bahwa ada juga sebagian santri yang usai boyong atau pulang, ternyata terputus. "Bahkan nganeh-nganehi," ungkapnya. Hal tersebut misalnya dibuktikan dengan ketidaksukaan yang bersangkutan kepada tradisi tahlil, juga gemar mengatakan bidah sejumlah kebiasaan di masyarakat.
"Tetapi, semua berkumpul di sini untuk memastikan bahwa kita masih terhubung dengan Kiai Bisri, serta guru yang lain," kata Gus Ipul. Karena pada hakikatnya, para guru pesantren saling terhubung dan tidak ada putus-putusnya.
Di pesantren sebenarnya tidak mengenal pondok besar maupun kecil. "Karena pada hakikatnya, pondok besar berawal dari pondok kecil, demikian pula pondok kecil adalah bagian dari pondok besar," tegasnya. Terhubungnya para kiai tersebut adalah lantaran nasab keilmuan maupun pernikahan.
Alasan kedua, Gus Ipul juga menyampaikan hasil survei mengapa para santri akhirnya memilih pesantren tertentu. "50 persen, santri mondok ke pesantren lantaran hormat dan takzim kepada muassis dan pengasuh," urainya.
Sedangkan peran alumni memberikan sumbangsih 35 persen. "Jadi, alumni itu ikut memasarkan pesantren," katanya. Tidak sedikit yang kurang tahu pesantren tertentu, akan tetapi lantaran alumninya berkiprah maksimal di masyarakat, akhirnya banyak masyarakat setempat yang berminat."Kalau alumni pesantren alim, akhlaknya baik, menjadi panutan, tentunya akhirnya memotivasi orang untuk mondok di situ," jelasnya. Sedangkan sisanya adalah lantaran faktor orang tua.
"Manfaat ketiga yang tidak kalah penting dari haul adalah sarana tabayyun atau klarifikasi terkait isu aktual akhir-akhir ini," ungkap Gus Ipul. Kendati perkembangan teknologi informasi demikian pesat, namun para santri harus melakukan klarifikasi langsung terkait berita mutaakhir yang menjadi perhatian umat.
Menurut mantan Ketua Umum GP Ansor tersebut, keberadaan forum silaturahmi demikian penting agar santri mendapat informasi yang benar. "Juga memastikan agar tindakan santri tidak salah ketika menyikapi sebuah informasi," jelasnya. Karena itu Gus Ipul tetap berharap kegiatan haul terus dilestarikan lantaran sarat manfaat.
Sejumlah tokoh hadir pada puncak haul Kiai Bisri ini. Tampak Rais Aam PBNU KH Ma'ruf Amin, Wakil Rais Aam KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Rais Syuriyah PWNU Jatim KH Anwar Manshur, H Muhaimin Iskandar, H Abdul Halim Iskandar, Bupati Jombang Nyono Suharli Wihandoko, dan pengasuh pesantren di Jatim. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)



No comments:
Post a Comment