Tidak sedikit orang yang nyinyir terhadap kegiatan istighotsah yang
digelar oleh Nahdlatul Ulama (NU). NU bisanya hanya istighotsah saja,
istighotsah tidak ada manfaatnya, buat apa sih istighotsah, kenapa
berdzikir aja harus beramai-ramai seperti itu, berdoa kok dipamerin
seperti itu, buang-buang waktu, dan nyinyiran lainnya. Begitulah
kira-kira beberapa penilaian terhadapa istighotsah.
Istighotsah
memiliki makna meminta pertolongan kepada Allah SWT. Biasanya,
istighotsah diselenggarakan dengan tunjuan untuk meminta pertolongan
kepada dzat yang Maha Kuasa ketika terjadi keadaan yang sulit dan sukar.
Praktik istighotsah adalah orang-orang berkumpul di dalam satu tempat
dengan menggunakan busana putih-putih. Para tokoh agama dan masyarakat
duduk di panggung yang sudah disediakan, sementara pesertanya duduk
lesehan menghadap ke arah panggung. Lalu kemudian mereka melantunkan
bacaan-bacaan wirid dan dzikir, diselingi dengan sambutan-sambutan dan
mauidloh hasanah, dan diakhiri dengan doa bersama. Inti dari acara
istighotsah adalah doa bersama.
Nahdlatul
Ulama (NU) sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia -bahkan dunia-
menjadikan istighotsah sebagai perantara untuk menyelesaikan persoalan
sosial-politik- kemasyarakatan –baik tingkat regional maupun nasional-
yang dianggap sudah pada tahap berbahaya (dangerous) dan mengancam
keutuhan serta persatuan bangsa Indonesia. Tentu, itu ditempuh setelah
melakukan berbagai usaha. Warga NU percaya bahwa berdoa adalah
penyempurna dari usaha seorang hamba agar apa yang mereka harapkan
dikabulkan oleh Yang Maha Mendengar. Doa adalah senjatanya orang yang
beriman. Bukankah Tuhan akan lebih mendengar dan mengabulkan doa yang
dilantunkan secara bersama-sama.
Pada 9 April
2017, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menggelar
Istighotsah Kubro di Gelora Delta Sidoarjo. Ada ratusan ribu yang hadir
dari berbagai kabupaten di Jawa Timur. Sebagaimana yang diuatarakan oleh
Rais ‘Aam PBNU, KH Ma’ruf Amin, istighotsah kubro tersebut bertujuan
untuk mendoakan umat, bangsa, dan negara Indonesia agar aman, sejahtera,
damai, dan terhindar dari segala macam malapetaka.
Menurut
hemat saya, acara Istighotsah Kubro tersebut digelar karena NU melihat
kondisi bangsa Indonesia yang memprihatinkan. Mulai dari korupsi yang
merajalela, wakil rakyat yang tidak mewakili aspirasi rakyat, hingga
semakin maraknya gerakan yang ingin merongrong pondasi dan ideologi
Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila.
Mereka
semakin berani menampakkan diri dan menentang pemerintahan yang sah.
Bahkan, mereka dengan terang-terangan ingin ‘merobohkan’ Negara Kesatuan
Republik Indonesia dan menggantinya dengan negara khilafah . Ironisnya,
mereka diberi izin dan ‘dibiarkan’ begitu saja oleh aparat negara untuk
melakukan berbagai aktivitas dan pawai-pawai di ruang publik.
Sebagai
organisasi yang memiliki amanat untuk menjaga keutuhan dan persatuan
bangsa Indonesia, maka NU ‘turun tangan’. Dilakukanlah berbagai macam
cara untuk meng-counter kelompok-kelompok yang ingin mengganti
Pancasila. Mulai dari diskusi di forum-forum kajian keislaman,
menerbitkan buku-buku, berkoordinasi dengan aparat kepolisian untuk
membatalkan acara mereka, hingga menyelenggarakan istighotsah
besar-besaran untuk ‘unjuk gigi’ dan menegaskan bahwa NU tidak tidur
dalam menjaga keutuhan dan persatuan bangsa ini.
Sisi Lain Istighotsah
Selain
untuk berdoa bersama, saya rasa istighotsah juga bisa dijadikan alat
perantara untuk menyatukan bangsa Indonesia yang terbelah karena berbeda
dalam memilih kepala daerah. Sejak pemilihan presiden tahun 2014,
seolah-olah masyarakat kita terbelah menjadi dua kelompok; barisan yang
mendukung si A, barisan yang mendukung si B. Polarisasi tersebut masih
berlanjut sampai sekarang meski pilpres sudah usai tiga tahun yang lalu.
Dan itu merembet kemana-mana, termasuk ke tingkat pemilihan kepala
daerah.
Bukan hanya itu, asosiasi partai
politik yang berbeda juga kadang menjadikan hubungan antar anak bangsa
menjadi renggang. Kadang mereka tidak sungkan sikut sana-sikut sini
untuk memenangkan partainya. Yang menjadi penyakit adalah mereka
melupakan dan ‘menggadaikan’ persatuan anak bangsa ini demi kelompoknya
sendiri. Menurut saya, itu harus dicarikan mediumnya agar polarisasi
anak bangsa bisa terjembatani.
Kita akan merasa
adem dan tenang ketika melihat istighotsah. Bagaimana tidak, semua
orang dari berbagai lapisan masyarakat, beda partai, beda memilih
presiden dan gubernur, tetapi mereka bisa kumpul dan akur di dalam satu
tempat. Mereka duduk dalam satu majelis dzikir dan larut di dalamnya
hingga mereka lupa akan perbedaan-perbedaan yang menganga di antara
mereka. Bukankah itu hal yang indah.
Istighotsah
bisa menjadi medium untuk menyadarkan anak bangsa ini bahwa kepentingan
Bangsa dan Negara Indonesia adalah di atas segala-galanya. Buktinya,
mereka bisa ‘duduk akur’ dalam satu wadah –yang namanya istighotsah-
demi mendoakan Indonesia yang lebih baik dan menjaga keutuhannya.
Singkatnya, istighotsah bukan hanya sekadar berdoa bersama, tetapi ada nilai persatuan di dalamnya.
Penulis adalah alumnus Perguruan Islam Mathali’ul Falah
Sumber Nu.or.id



No comments:
Post a Comment