Peranan guru ngaji dalam membina anak bangsa, jangan pernah
disepelekan. Sebab, kenyataannya sejak lama guru ngaji menjadi simbol
sekaligus sumber pembinaan moral generasi muda, lebih-lebih di
pedesaan.
Ungkapan tersebut disampaikan oleh
Wakil Sekretaris PCNU Jember Moch. Eksan saat bertemu dengan puluhan
anggota dan pengurus Forum Silaturrahim Guru Ngaji di Mushalla Al-Falah,
Desa Sumberwaru, Kecamatan Sukowono, Jember, Jawa Timur, Sabtu (8/4)
malam.
Menurut Eksan, guru ngaji mempunyai
kontribusi yang besar dalam memberantas buta aksara Al-Qur’an sekaligus
membina akhlak masyarakat. "Kita dan pemerintah wajib mengapresiasi guru
ngaji," ujarnya.
Yang menarik, tambah Eksan,
guru ngaji melaksanakan tugasnya tanpa pamrih, tidak mengharapkan
balasan materi selain pahala dari Allah SWT. Kalaupun pemerintah
akhirnya memberikan insentif pada guru ngaji, itu tidak ada artinya jika
dibandingkan dengan jasa-jasa mereka yang telah bertahun-tahun terlibat
dalam pembinaan moral sekaligus mengajari ngaji masyarakat.
"Ingat,
mereka tidak hanya mengajar ngaji tapi juga mengajari shalat, baca
barzanji dan sebagainya. Tujuan mereka selain santri bisa mengaji, juga
bisa tahu tatakrama dan kenal tuhannya dan sebagainya," tukasnya.
Alumnus
IPNU Jember itu manambahkan, memberantas buta baca-tulis Al-Qur’an sama
penting bahkan lebih penting dari memberantas buta aksara sebagaimana
yang selama ini menjadi program pemerintah.
Sebab,
pemberantasan buta baca-tulis Al-Qur’an juga terkait dengan pembinaan
iman, yang merupakan pondasi dari hidup dan kehidupan manusia. "Peran
itu sudah diambil oleh guru ngaji. Maka suah selayaknya pemeritah dan
kita semua memberikan apresiasi pada mereka," urainya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)
Sumber Nu.or.id



No comments:
Post a Comment